Sains berasal dari kata Scientia (bahasa Yunani) artinya ilmu pengetahuan. Dalam sejarah
perkembangan ilmu pengetahuan, pengertian scientia ini dianggap terlalu luas
cakupannya, karena mencakup semua ilmu pengetahuan yang ada. Sejalan dengan
problema yang dihadapi manusia dan sesuai dengan karakteristik ilmu pengetahuan
yang berkembang sampai saat ini, maka sains diartikan sebagai ilmu pengetahuan
alam atau IPA.
Sejarah membuktikan bahwa awal mula ilmu
pengetahuan alam berasal dari jasirah Mesir dan Yunani, namun waktu itu IPA
hanya didasarkan pada pikiran dan dugaan yang sifatnya spekulatif, maka yang
muncul adalah bentuk kemunduran IPA. Hal ini ditandai dengan berkembangnya
takhayul dan kepercayaan yang tidak didasari bukti empiris dan kemampuan
berpikir taat asas. Dalam hal ini keterkaitan antara eksperimen dengan
penalaran yang taat asas saat itu belum mendapatkan perhatian yang memadai.
IPA (sains) mencakup beberapa pengertian
mendasar yang berkaitan dengan olah karya budi manusia dalam mengungkap alam
semesta. Pendapat Sund (1975) menyatakan bahwa sains mencakup tiga aspek yang
terpadu yakni:
1) scientific attitudes (sikap
ilmiah),
2) scientific methods (metode
ilmiah) dan
3) scientific product (produk
ilmiah).
Obyek IPA melibatkan konsepsi ilmiah tentang
kenyataan alamiah. Metode disebut juga pendekatan pemecahan masalah lewat IPA
mencakup aspek berpikir induksi lewat pengalaman empiris, berpikir rasional
yang menghasilkan produk berpikir apriori dan gabungan antara emprisme dan
rasionalisme yang disebut kritisisme.
Sistematika sains (IPA) ditekankan pada
masalah yang pada umumnya dapat dikerjakan oleh manusia. Dalam hal ini ilmu
pengetahuan alam harus dapat diurutkan dan dipetakan (mapping) ke dalam hal
yang lebih detail (rinci). Di samping itu ilmu pengetahuan alam haruslah
bertolak dari kenyataan alamiah. Dengan demikian, peran pengamatan, pengukuran,
klasifikasi menjadi pembuka tabir bagi benda yang jauh dari tempat kita berada.
Pengamatan adalah upaya untuk memperoleh
bukti empiris, dalam rangka mengumpulkan informasi yang sifatnya faktual. Lewat
pengamatan didapatlah fakta, selanjutnya dengan menggolong-golongkan fakta
sejenis, membanding-bandingkan dan menghubungkan berbagai fakta; kegiatan ini
dalam rangka menguji dugaan atau ramalan yang telah diajukan.
Apabila ternyata ramalan yang diajukan
didukung oleh fakta yang dikumpulkan, artinya ramalan yan diajukan tersebut
cocok dengan realitas atau kenyataan. Hal inilah yang menjadi fokus dalam
memperoleh kebenaan ilmiah.Salah satu peralatan untuk melihat objek yang jauh
adalah teropong. Dengan teropong manusia dapat melihat benda yang jauh secara
objektif.
Sikap ilmiah dan proses ilmiah menyatu dalam
terapannya, artinya antara metode ilmiah dan sikap ilmiah tidak dapat
dipisahkan satu sama lain. Sikap ilmiah mencakup kepercayaan, keyakinan,
nilai-nilai, objektif, hasrat ingin tahu, rendah hati, jujur, kemauan untuk
mempertimbangkan fakta baru, pendekatan positif terhadap kegagalan, terbuka,
teliti dan sebagainya.
Dalam upaya menjelaskan fakta alamiah yang
seringkali merupakan bentuk rahasia alam tindakan para ilmuwan selalu dilandasi
pada sikap seperti dijelaskan di depan. Selanjutnya proses ilmiah atau
seringali disebut metode ilmiah merupakan cara khusus dalam memecahkan masalah.
Cara khusus ini meliputi langkah identifikasi
masalah, membatasi masalah, merumuskan masalah secara spesifik, mengajukan
hipotesis, mengumpulkan data, analisis data, menyimpulkan, ekstrapolasi dan
membuat sintesis dan evaluasi dan sebagainya. Hasil temuan lewat proses ilmiah
dan menggunakan sikap ilmiah secara akurat ini pada akhirnya diperoleh produk
ilmiah. Produk ilmiah dalam IPA dapat berupa fakta, data, konsep, teori, hukum
dan prinsip.
0 Response to "Integrasi Sikap dan Proses Ilmiah IPA"
Posting Komentar